In 1946, George Orwell articulated the reasons why he put pen to paper in an essay entitled Why I Write.
In this Web series, authors talk about their literary habits and reading preferences,
and examine Orwell's question that lies at the heart of being an author—why they write.

Christina Juzwar


The Butterfly in Me

 

Buku dan Menulis adalah hidupnya.

 

Dari kecil suka membaca buku karena Papanya adalah pencinta buku. Darah menulis juga mengalir di tubuhnya melalui kakek yang seorang penulis dan sutradara terkenal, Njoo Cheong Seng, yang telah menulis lebih dari 200 cerita pendek, novel, puisi dan naskah panggung sandiwara dan neneknya, Fifi Young, seorang artis panggung dan televisi, dan telah berakting di 86 film dalam 34 tahun karirnya.

 

Lulusan hukum ini pernah menjadi make up artist. Tapi kecintaannya kepada buku dan menulis membuatnya menjatuhkan pilihan pada bidang ini. Christina Juzwar sudah menulis sejak tahun 2006 dan tak bisa berhenti hingga detik ini.

 

Christina Juzwar suka menulis cerita romance baik untuk remaja maupun dewasa. Christina Juzwar sudah menerbitkan lebih dari 13 buku. Buku terbaru yang keluar adalah Three Days to Remember dan The Butterfly in Me.

 

Kenapa saya menulis
Aku menulis untuk mengosongkan otak yang selalu saja membuat banyak cerita sendiri. Jadi pada intinya aku tukang ngayal. Dan itu melelahkan saking banyaknya cerita yang bermain di kepalaku. Jadi daripada memenuhi isi otak, jadi aku tulis saja sehingga setiap orang bisa membaca apa yang aku khayalkan.

 

Kebiasaan menulis seperti apa yang kamu lakukan?
Iya, aku menulis setiap hari. Kira-kira 3-5 jam. Aku punya target pribadi. Minimal dua halaman Ms. Word. Terkadang bisa menyelesaikan sampai tujuh halaman MS Word.

 

Kapan saja. Pagi, siang, malam. Tapi jarang sampai harus bergadang (karena nggak kuat nahan kantuk) Sebisa mungkin mencari celah waktu. Lokasi menulis pun pindah-pindah untuk cari suasana biar tidak bosan. Kalau di rumah banyak gangguan (terutama dari anak) maka pergi keluar rumah. Biasanya cafe.

 

Dimana kamu menulis?
Sebenarnya aku bisa menulis di berbagai situasi. Aku cukup fleksibel. Tapi kalau boleh milih, aku suka nulis café. Tapi suatu hari, aku ingin menulis sendirian tanpa gangguan siapapun di Bali.

 

Sumber gangguan kamu yang terbesar?
Anakku! Setiap menit dia bisa manggil aku. Penyelesaiannya? Nulis di luar rumah.

 

Sumber inspirasi kamu yang terbaik?
Buku, acara televisi, dan lingkungan sekitar. Karena itu aku suka ke mal atau keramaian untuk mengamati perilaku orang-orang sekitar.

 

Seberapa sering kamu mengalami writers’ block dan bagaimana cara kamu mengatasinya?
Kalau aku nggak percaya yang namanya writer’s block. Itu hanya kata kerennya dari malas. Aku juga sering kena malas sih, tapi untuk sampai nggak tau harus apa yang ditulis itu nggak pernah. Karena sebelum menulis aku selalu membuat synopsis yang akan jadi pegangan aku (seperti peta) untuk menyelesaikan cerita sampai akhir.

 

Seberapa sering kamu meragukan kemampuan kamu sendiri?
Sangat sering.

 

Penulis kontemporer yang kamu selalu baca bukunya?
Novelis Indonesia Clara Ng.

 

Buku kesukaan?
Banyak! Tapi yang bikin aku nggak bisa lupa sampai sekarang adalah My Sister’s Keeper.

 

Penulis kesukaan?
Banyak juga! Tapi kalau disuruh milih, untuk penulis Indonesia Alberthiene Endah, Dewi Lestari dan Clara Ng. Untuk penulis luar Jodi Picoult dan J.K. Rowling.

 

Buku yang seharusnya kamu baca tetapi belum sempat?
To Kill a Mockingbird dan The Catcher in the Rye dan semua buku klasik.

 

Bagaimana awalnya kamu mulai menulis?
Pertama mulai nulis itu adalah menulis cerpen. Dan dengan pedenya ikut lomba di sebuah majalah. Masukin tiga cerpen. Semua Gagal. Tapi sejak itu jadi penasaran. Aku coba-coba belajar nulis novel dengan sendirinya. Setelah itu nekat mengirimkannya ke penerbit. Ternyata di terima.

 

Apakah menulis merubah segalanya?
Menulis mengubah segalanya. Inilah kehidupan yang aku inginkan. Aku pernah kerja kantoran sebelumnya dan nggak cocok. Dengan menulis, aku bisa kerja di mana saja dan kapan saja. Aku juga bisa mendisiplinkan diri sendiri, tegas kepada diri sendiri, dan pada dasarnya jadi bos untuk diri sendiri. Menulis buatku seperti bekerja yang tak bekerja. Ini hobi, passion yang menghasilkan uang, jadi tak terasa beratnya. Mengerjakannya juga selalu enjoy. Juga, dengan menulis pikiranku lebih luas, bertemu dengan banyak orang yang menarik dan belajar hal-hal yang terkadang akupun tidak tahu.

 

Apa yang sedang kamu kerjakan sekarang dan kapan akan terbit?
Tahun 2014 jadi tahun yang ‘wah’ untukku. Rencana (dari Tuhan dan Penerbit ) aku akan menerbitkan delapan buku (lima novels, dua kumpulan cerpen solo dan satu kumpulan cerpen kolaborasi).

 

Sejauh ini, sudah terbit dua novel dan satu kumpulan cerpen yaitu: Three Days to Remember (Maret) dan The Butterfly in Me (Mei) Untuk kumpulan cerpen berjudul The Shape of Love (Februari).

 

Yang berikutnya akan terbit adalah kumpulan cerpen kolaborasi (berjudul Mantan – rencana terbit akhir mei), kumpulan cerpen solo (berjudul Mom and Me – rencana terbit bulan juni) dan sebuah novel yang judulnya masih dirahasiakan (rencana terbit bulan juni)

 

Penjelasan yang sangat penting berkaitan dengan jawaban ini:
Semua orang pada kaget mendengar aku akan menerbitkan delapan buku pada tahun ini. Percayalah, aku juga kaget. Rencana penerbitan ini semua ditentukan oleh Tuhan dan Penerbit yang bersangkutan. Kalau boleh aku kasih tau, naskah-naskah itu tidak aku tulis dalam waktu bersamaan (Nggak mungkin juga ya) Ada yang aku tulis dari tahun 2011, 2012 dan 2013.

 

Jadi jangan anggap aku menulis seperti bermain sulap ya. Semua butuh waktu.

 

Posted: Wednesday, May 7, 2014

 

An English translation of this interview is here.

 



Leave a Reply

Posted on: May 8th, 2014 by JFK Miller No Comments